SIDRAP.KN– Puluhan anak kelompok bermain (KB) dan taman kanak-kanak (TK) di Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), hingga kini belum menerima program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sedikitnya 65 anak yang bersekolah di sejumlah KB dan TK di wilayah tersebut belum mendapatkan manfaat program MBG. Sementara itu, sebagian anak sekolah lainnya telah menerima makanan bergizi secara rutin.
Terkait kondisi tersebut, dilakukan konfirmasi kepada Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Hafifa. Ia menjelaskan bahwa dapur SPPG yang dikelolanya saat ini telah melayani sekitar 2.971 penerima manfaat.
Menurut Hafifa, kapasitas penerima manfaat yang menjadi tanggung jawab dapurnya berada di kisaran 3.000 penerima manfaat.
Kondisi tersebut kemudian menjadi pertanyaan di tengah masyarakat. Pasalnya, terdapat dapur SPPG di wilayah lain yang disebut mampu melayani penerima manfaat lebih dari 3.000 orang, sementara masih ada puluhan anak di Kecamatan Tellu Limpoe yang belum memperoleh MBG.
Sementara itu, melalui sambungan telepon WhatsApp, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Sidrap, Ismail, mengatakan pihaknya akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan Kepala SPPG terkait persoalan tersebut.
Ismail menjelaskan bahwa SPPG Arateng saat ini sudah overload. Jika dipaksakan untuk menambah penerima manfaat, jumlahnya akan melebihi 3.000 penerima, yang menurutnya tidak diperbolehkan dalam petunjuk teknis (juknis).
“Dalam hal ini sudah overload SPPG Arateng. Kalau dipaksakan, akan kelebihan penerima manfaat menjadi lebih dari 3.000 dan itu tidak diperbolehkan dalam juknis,” jelas Ismail.
Ia juga menerangkan bahwa pendataan terhadap dua sekolah KB dan TK tersebut dilakukan oleh SPPG yang masih dalam tahap persiapan operasional.
“Yang mendata dua sekolah KB dan TK tersebut adalah SPPG yang masih dalam persiapan operasional dan saat ini masih menunggu informasi untuk running. Kalau sudah berjalan, maka SPPG Polewali yang akan melakukan pelayanan, penyaluran dan pendistribusian MBG ke sekolah yang dimaksud,” ujarnya.
Dengan demikian, persoalan belum diterimanya MBG oleh puluhan anak tersebut masih menunggu beroperasinya SPPG yang dipersiapkan untuk melayani penerima manfaat di wilayah tersebut.
Masyarakat berharap persoalan ini segera mendapat perhatian dari pihak terkait. Mereka meminta agar seluruh anak yang memenuhi kriteria penerima manfaat dapat memperoleh MBG secara adil, sehingga tidak ada anak yang merasa tertinggal dibandingkan teman-temannya yang telah lebih dahulu menikmati program tersebut di sekolah.
“Harapan kami, anak-anak yang sekolah juga bisa menikmati MBG seperti teman-temannya yang sudah lama menerima MBG di sekolah,” harap salah seorang warga.
Masyarakat juga berharap adanya penjelasan yang transparan mengenai kuota penerima manfaat, mekanisme penentuan jumlah penerima, serta solusi bagi anak-anak yang hingga kini belum mendapatkan program MBG.
