
SIDRAP.KN— Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa (Polbangtan Gowa) mengadopsi inovasi teknologi “satpam sawah” berupa Rumah Burung Hantu (Rubuha) untuk mengendalikan hama tikus pada tanaman padi di Desa Polewali. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendampingan langsung oleh penyuluh pertanian setempat, Yanto Arbanu, SP.
Teknologi Rubuha merupakan metode pengendalian hama berbasis musuh alami dengan memanfaatkan burung hantu jenis Tyto alba. Burung ini dikenal sebagai predator alami tikus yang sangat efektif di lahan persawahan.

Yanto Arbanu menjelaskan bahwa keberadaan Rubuha mampu menekan populasi tikus secara alami dan berkelanjutan. “Satu ekor burung hantu dewasa dapat memangsa 2 hingga 5 ekor tikus setiap malam. Jika sudah berpasangan dan berkembang biak, jumlah tikus yang dikendalikan bisa mencapai lebih dari seribu ekor dalam setahun,” ujarnya.
Selain efektif, teknologi ini juga dinilai hemat biaya produksi. Petani hanya perlu mengeluarkan biaya awal sekitar Rp1jt -1,5jt untuk pembangunan satu unit Rubuha, yang dapat digunakan hingga 5–10 tahun. Hal ini jauh lebih efisien dibandingkan penggunaan racun atau metode gropyokan yang membutuhkan biaya berulang.
Dari sisi lingkungan, penggunaan Rubuha dinilai lebih aman karena tidak menggunakan bahan kimia. Dengan demikian, tidak ada residu berbahaya pada tanah, air, maupun hasil panen. Selain itu, keseimbangan ekosistem tetap terjaga karena predator alami lainnya tidak terganggu.

Mahasiswa Polbangtan Gowa juga menekankan bahwa teknologi ini mampu mencegah kerugian hasil panen akibat serangan tikus yang bisa mencapai 30 hingga 100 persen. Dengan adanya burung hantu sebagai “penjaga sawah”, potensi kehilangan hasil dapat ditekan hingga di bawah 5 persen.
“Jika potensi panen mencapai 6 ton per hektare, maka petani bisa menyelamatkan sekitar 1,5 ton gabah per musim. Ini tentu sangat berdampak pada peningkatan pendapatan petani,” tambah Yanto.
Lebih lanjut, Rubuha memberikan manfaat jangka panjang karena burung hantu akan menetap dan berkembang biak jika habitatnya terjaga. Satu unit Rubuha diketahui efektif untuk melindungi area persawahan seluas 15 hingga 20 hektare.
Teknologi ini kini mulai dikembangkan secara berkelompok di desa, dengan pemasangan 3 hingga 5 unit Rubuha untuk membentuk koloni burung hantu. Desa Polewali bersama Desa Teteaji menjadi salah satu wilayah yang telah mengadopsi inovasi ini sebagai bagian dari upaya pertanian berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Polbangtan Gowa berharap dapat mendorong petani untuk beralih ke metode pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan, efektif, dan berkelanjutan demi mendukung ketahanan pangan daerah.(*)

Tidak ada komentar