
SIDRAP.KN— Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa mengedukasi masyarakat tentang pemanfaatan air cucian beras sebagai pupuk organik cair (POC) yang murah, mudah dibuat, dan bermanfaat untuk menyuburkan tanaman.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di rumah pengurus Poktan Lembangnge, Desa Teppo, Kecamatan Tellulimpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, dengan pendampingan Mantri Tani Kecamatan Tellulimpoe, Yanto Arbanu, SP.
Dalam penyampaian materinya, mahasiswa Polbangtan Gowa menjelaskan bahwa air cucian beras memiliki kandungan karbohidrat, vitamin B1, fosfor, kalium, nitrogen, serta bakteri Pseudomonas fluorescens yang sangat baik untuk meningkatkan kesuburan tanah sekaligus membantu tanaman lebih tahan terhadap serangan penyakit.
Mereka menerangkan, air cucian beras dapat dimanfaatkan sebagai nutrisi tambahan bagi tanaman karena mengandung unsur hara seperti N, P, K, kalsium, magnesium, besi, dan zinc meski dalam jumlah kecil. Kandungan vitamin B1 di dalamnya juga mampu membantu mengurangi stres tanaman, terutama setelah proses pindah tanam.

Selain itu, air cucian beras juga dapat merangsang pertumbuhan mikroba baik di dalam tanah, membantu perkembangan akar, serta memperbaiki struktur tanah agar lebih gembur dan subur.
Dalam praktiknya, mahasiswa Polbangtan Gowa memperagakan dua metode pembuatan POC air cucian beras, yakni metode sederhana yang langsung digunakan setelah didiamkan semalam, dan metode fermentasi menggunakan tambahan molase atau gula merah serta EM4 pertanian agar hasilnya lebih kuat dan tahan lama.
“Bahan ini sangat mudah didapat karena berasal dari limbah dapur rumah tangga. Selain hemat biaya, penggunaan pupuk organik cair dari air cucian beras juga baik untuk kesehatan tanah dalam jangka panjang,” ujar salah satu mahasiswa Polbangtan Gowa.
Mantri Tani Kecamatan Tellulimpoe, Yanto Arbanu, SP, mengapresiasi inovasi sederhana yang diperkenalkan mahasiswa kepada petani. Menurutnya, pemanfaatan bahan-bahan alami seperti air cucian beras dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Ia berharap kegiatan edukasi seperti ini terus dilakukan agar petani semakin memahami cara budidaya ramah lingkungan dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar mereka.
Kegiatan tersebut mendapat antusias dari pengurus dan anggota kelompok tani karena dinilai mudah diterapkan, murah, dan bermanfaat untuk berbagai jenis tanaman sayuran maupun tanaman hias.(MD)

Tidak ada komentar